MENGAMALKAN HMI DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN PROF. LAFRAN PANE: BISA JADI TIKET MASUK SURGA?
23 Oct 2026 | 55 | Admin
Oleh: Elas Anra Dermawan, S.H.
Founder LBH NADI & Alumni HMI Jambi
Jambi, Jambinyanyok.com |
Pendahuluan: Ketika HMI Dipertanyakan oleh Kadernya Sendiri
Ada sebuah pertanyaan yang layak direnungkan oleh setiap kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI): jika nilai-nilai HMI benar-benar diamalkan dalam kehidupan, apakah hal itu bisa menjadi jalan menuju surga?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar permainan retorika. Ia menyentuh persoalan mendasar mengenai hubungan antara iman, ilmu, amal, perjuangan organisasi, dan tanggung jawab manusia di hadapan Allah SWT.
Namun, pertanyaan yang lebih penting muncul ketika kita melihat kemungkinan adanya jarak antara cita-cita pendirian HMI dan perilaku sebagian orang yang mengaku membawa nama besar organisasi tersebut.
Apakah HMI hari ini masih menjadi ruang pembentukan insan akademis yang berintegritas, atau dalam praktik tertentu justru berisiko berubah menjadi arena perebutan pengaruh, kepentingan politik, dan legitimasi sosial?
Sebagai alumni HMI, kritik ini bukan lahir dari kebencian terhadap organisasi. Sebaliknya, kritik ini merupakan bentuk kecintaan terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh pendirinya, Prof. Lafran Pane.
Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari kritik, melainkan organisasi yang berani mengoreksi dirinya sendiri ketika praktik kadernya mulai menjauh dari cita-cita perjuangan.
Lafran Pane: HMI Bukan Sekadar Identitas, Melainkan Tanggung Jawab Perjuangan
HMI didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane bersama rekan-rekannya. Pada masa itu, Indonesia masih menghadapi tantangan mempertahankan kemerdekaan, sementara umat Islam membutuhkan penguatan pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya.
Dua tujuan awal HMI adalah mempertahankan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Sejarah resmi HMI menjelaskan konteks keislaman dan kebangsaan yang melatarbelakangi pendiriannya.
Dalam perkembangannya, tujuan HMI dirumuskan sebagai pembentukan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT. Rumusan tersebut tercantum dalam profil resmi Pengurus Besar HMI.
Perhatikan kata-kata yang digunakan: akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab.
Semua itu bukan sekadar rangkaian kalimat untuk dihafalkan dalam forum perkaderan. Nilai-nilai tersebut merupakan ukuran ideal yang semestinya diuji melalui perilaku nyata kader.
Insan akademis menuntut kejujuran berpikir. Insan pencipta menuntut keberanian melahirkan gagasan dan solusi. Insan pengabdi menuntut kesediaan mendahulukan kemaslahatan. Sementara itu, napas keislaman menuntut keselarasan antara ucapan, tindakan, akhlak, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Dengan demikian, mengamalkan HMI tidak cukup hanya dengan mengenakan atribut hijau-hitam, menyanyikan lagu perjuangan, menguasai materi perkaderan, atau menyandang status senior dan alumni.
Pertanyaan sesungguhnya adalah: sejauh mana nilai-nilai tersebut membentuk kepribadian dan perilaku kita?
Mengkritisi Pemahaman dan Praktik HMI yang Berpotensi Menyimpang dari Cita-Cita Pendiri
Setiap organisasi memiliki kemungkinan mengalami kesenjangan antara cita-cita normatif dan praktik kesehariannya. HMI pun tidak terkecuali.
Namun, kritik harus diarahkan pada praktik dan pemahaman yang dapat diidentifikasi, bukan digeneralisasi kepada seluruh kader HMI.
Pertama, ketika kebanggaan organisasi mengalahkan kejujuran intelektual.
HMI memiliki tradisi diskusi, dialektika, dan perkaderan. Tradisi tersebut semestinya melahirkan kader yang berani menguji gagasan, termasuk gagasan yang berkembang di internal organisasinya sendiri.
Apabila identitas HMI justru digunakan untuk menolak kritik, membenarkan pendapat tanpa argumentasi, atau menganggap senior selalu benar, maka muncul persoalan serius dalam kehidupan intelektual organisasi.
Seorang kader tidak menjadi akademis hanya karena pernah mengikuti banyak pelatihan. Ia menjadi akademis ketika bersedia menguji pendapat berdasarkan ilmu, fakta, logika, dan etika.
Lafran Pane sepatutnya dikenang bukan sekadar sebagai nama besar pendiri, melainkan sebagai bagian dari tradisi perjuangan yang harus terus dipelajari secara kritis.
Kedua, ketika perjuangan organisasi berubah menjadi kendaraan kepentingan pribadi.
Keterlibatan kader HMI dalam politik tidak serta-merta bertentangan dengan cita-cita organisasi. Politik dapat menjadi ruang pengabdian, perjuangan kebijakan publik, dan pembelaan terhadap kepentingan masyarakat.
Persoalan muncul ketika idealisme hanya dijadikan bahasa untuk memperoleh jabatan, akses kekuasaan, keuntungan pribadi, atau kedekatan dengan pihak tertentu.
Jika hal demikian terjadi, kader perlu bertanya: apakah perjuangan masih diarahkan kepada kemaslahatan umat dan bangsa, atau justru kepentingan pribadi yang mulai mengendalikan arah perjuangan?
Kritik ini tidak berarti bahwa semua kader yang memasuki dunia politik memiliki motif pragmatis. Yang perlu diuji adalah integritas, cara memperoleh kekuasaan, kebijakan yang diperjuangkan, dan manfaat nyata yang dihasilkan.
Jangan sampai seseorang berbicara tentang pengabdian di forum organisasi, tetapi melupakan pengabdian ketika berhadapan dengan kesempatan memperoleh keuntungan pribadi.
Ketiga, ketika simbol keislaman tidak sejalan dengan akhlak.
HMI berasaskan Islam. Karena itu, pengamalan nilai-nilai Islam semestinya tercermin dalam kejujuran, amanah, keadilan, penghormatan terhadap sesama, dan keberanian mengakui kesalahan.
Apabila seseorang fasih berbicara tentang Islam, tetapi membenarkan kebohongan, meremehkan amanah, memfitnah pihak lain, atau memperlakukan manusia secara tidak adil, maka terdapat pertentangan antara simbol yang ditampilkan dan nilai yang semestinya diamalkan.
Tentu, setiap manusia memiliki kekurangan dan tidak ada kader yang sempurna. Kritik ini bukan tuntutan agar kader menjadi manusia tanpa dosa, melainkan ajakan untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai ukuran untuk mengoreksi diri.
Sebab, kesalehan tidak cukup dipertontonkan melalui kata-kata. Kesalehan harus diperjuangkan dalam tindakan nyata.
Keempat, ketika loyalitas kepada kelompok mengalahkan keberanian membela kebenaran.
Loyalitas merupakan unsur penting dalam organisasi. Akan tetapi, loyalitas tidak boleh berubah menjadi pembenaran tanpa batas terhadap kesalahan kelompok sendiri.
Jika kader hanya berani mengkritik kesalahan lawan, tetapi memilih diam ketika kesalahan dilakukan oleh orang dekat, senior, atau kelompoknya sendiri, maka objektivitas perjuangan patut dipertanyakan.
Dalam perspektif Islam, kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai. Sebaliknya, kesalahan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena dilakukan oleh orang yang kita hormati.
Di sinilah pentingnya keberanian moral: berpihak kepada kebenaran tanpa kehilangan adab, serta mengoreksi kesalahan tanpa harus membenci pelakunya.
Kritik terhadap sebagian praktik HMI harus dimulai dari kesediaan kader menerapkan ukuran yang sama kepada dirinya sendiri dan kepada pihak lain.
Apakah Mengamalkan HMI Bisa Menjadi Tiket Masuk Surga?
Inilah inti persoalan yang harus dijawab secara hati-hati.
Dalam Islam, tidak ada dasar yang membenarkan klaim bahwa menjadi anggota organisasi tertentu atau mengikuti seluruh pemikiran organisasi tersebut secara otomatis menjamin seseorang masuk surga.
Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun."
(QS. An-Nisa: 124)
Ayat ini mengarahkan perhatian kepada iman dan amal saleh, bukan kepada kebanggaan terhadap identitas organisasi.
Rasulullah SAW juga menerangkan dalam hadis sahih riwayat Muslim bahwa seseorang masuk surga dengan rahmat Allah, bukan semata-mata karena amalnya. Penjelasan ini mengingatkan bahwa manusia tidak dapat mengklaim keselamatan akhirat sebagai hak yang pasti.
Lalu, bagaimana dengan pengamalan nilai-nilai HMI?
Jika nilai-nilai yang diperjuangkan HMI mendorong seseorang memperkuat iman, menuntut ilmu, menjaga amanah, membela keadilan, membantu orang yang membutuhkan, dan mengabdikan diri kepada masyarakat, maka pengamalan nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.
Dalam pengertian inilah, mengamalkan nilai HMI bisa menjadi jalan menuju kebaikan dan rida Allah SWT, sepanjang dilakukan dengan niat yang benar serta sesuai dengan tuntunan syariat.
Namun, HMI bukan tiket otomatis menuju surga. Nama Lafran Pane pun tidak dapat dijadikan jaminan keselamatan akhirat bagi seseorang.
Yang dinilai bukan sekadar nama organisasi yang dibawa, melainkan iman, niat, amal, akhlak, serta rahmat Allah SWT.
Dengan kata lain, nilai-nilai HMI dapat menjadi sarana pengabdian, tetapi tidak dapat menggantikan kewajiban seorang Muslim untuk menjalankan ajaran Islam secara benar.
Jangan Mengatasnamakan Lafran Pane untuk Membenarkan Semua Pemahaman
Salah satu persoalan dalam organisasi yang memiliki sejarah panjang adalah kecenderungan mengatasnamakan pendiri untuk membenarkan penafsiran tertentu.
Padahal, terdapat perbedaan antara pemikiran historis seorang pendiri, rumusan resmi organisasi, penafsiran generasi berikutnya, dan perilaku individu yang mengaku mewakili organisasi.
Keempatnya tidak boleh dicampuradukkan.
Untuk menyatakan bahwa suatu pemahaman benar-benar berasal dari Prof. Lafran Pane, diperlukan rujukan yang dapat diperiksa, seperti tulisan, pidato, dokumen sejarah, atau penelitian yang kredibel.
Demikian pula, jika seseorang menyatakan bahwa paham tertentu merupakan satu-satunya jalan untuk memahami HMI, pernyataan tersebut harus diuji berdasarkan dokumen organisasi dan argumentasi yang terbuka terhadap kritik.
Tidak tepat menganggap semua praktik kader masa kini sebagai representasi langsung pemikiran pendiri. Sebaliknya, tidak tepat pula menggunakan nama pendiri untuk menutup perdebatan mengenai apakah suatu praktik masih sejalan dengan cita-cita awal HMI.
Menghormati Lafran Pane berarti menjaga kejujuran sejarah dan kesediaan menguji pemikiran, bukan menjadikan namanya sebagai legitimasi yang kebal terhadap pertanyaan.
Mengembalikan HMI kepada Keislaman, Keilmuan, dan Pengabdian
Jika sebagian praktik kader dinilai menjauh dari cita-cita HMI, solusinya bukan menghina organisasi atau meniadakan seluruh jasa kadernya.
Solusinya adalah memperkuat kembali perkaderan yang substantif, membangun tradisi intelektual yang sehat, serta menghubungkan idealisme dengan tindakan nyata.
Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bersama.
Pertama, memperkuat kualitas perkaderan. Perkaderan harus menghasilkan pemahaman Islam yang bertanggung jawab, bukan sekadar kemampuan mengulang istilah dan doktrin organisasi.
Kedua, membangun tradisi akademis yang sehat. Organisasi harus memberi ruang bagi perbedaan pendapat, kritik, penelitian, dan evaluasi yang jujur.
Ketiga, mengukur pengabdian melalui kontribusi nyata. Pengabdian seharusnya dinilai berdasarkan manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan hanya popularitas, jabatan, atau banyaknya kegiatan seremonial.
Keempat, menjaga integritas dalam ruang kekuasaan. Kader yang memasuki dunia politik maupun jabatan publik harus bersedia mempertanggungjawabkan tindakannya berdasarkan hukum, etika, dan kepentingan publik.
Kelima, menghadirkan keteladanan alumni. Pengalaman organisasi yang panjang tidak dengan sendirinya membuat seseorang lebih benar daripada kader yang lebih muda. Senioritas semestinya melahirkan kebijaksanaan dan tanggung jawab, bukan kekebalan terhadap kritik.
Semua itu merupakan ikhtiar untuk mendekatkan praktik organisasi kepada cita-cita yang tercantum dalam tujuan HMI. Ini bukan klaim bahwa seluruh cita-cita tersebut telah terwujud atau bahwa hanya HMI yang dapat menghasilkan manusia saleh.
Penutup: Jangan Hanya Membanggakan HMI, Buktikan Nilainya dalam Kehidupan
Sebagai alumni HMI, kita perlu berani mengajukan pertanyaan yang tidak selalu nyaman: apakah kita benar-benar mengamalkan nilai perjuangan, atau hanya bangga pernah menjadi bagian dari organisasi perjuangan?
Apakah ilmu yang diperoleh membuat kita lebih bijaksana? Apakah pengalaman berorganisasi menjadikan kita lebih jujur? Apakah semangat keislaman membuat kita lebih adil? Apakah pengabdian benar-benar dirasakan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar memperdebatkan siapa yang paling senior, paling berpengaruh, atau paling berhak mengatasnamakan HMI.
Jika mengamalkan nilai-nilai HMI berarti menegakkan iman, kejujuran, keadilan, ilmu, dan pengabdian, maka nilai-nilai tersebut patut diperjuangkan karena selaras dengan ajaran Islam.
Akan tetapi, apabila HMI hanya dijadikan simbol untuk memperoleh kedudukan, membenarkan kepentingan pribadi, atau membungkam kritik, maka kita harus berani mengoreksi praktik tersebut.
HMI tidak boleh diposisikan sebagai tiket otomatis menuju surga. Namun, nilai-nilai perjuangannya dapat menjadi bagian dari jalan kebaikan apabila benar-benar diamalkan dalam kerangka iman, akhlak, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah bukanlah seberapa bangga kita menyebut diri sebagai kader atau alumni HMI, melainkan bagaimana kita menggunakan ilmu, kekuasaan, kesempatan, dan kehidupan untuk menegakkan kebenaran serta menghadirkan kemaslahatan.
Lafran Pane telah meninggalkan warisan perjuangan. Tugas generasi setelahnya bukan sekadar merayakan nama besar tersebut, melainkan menguji diri sendiri: apakah kita masih berjalan di atas cita-cita perjuangan atau justru sedang menjauh darinya?
Sebab, organisasi yang bernafaskan Islam semestinya tidak hanya melahirkan orang-orang yang pandai berbicara tentang perjuangan, tetapi juga manusia yang berani menjalankan nilai-nilai perjuangan ketika berhadapan dengan kepentingan dirinya sendiri.
Mengamalkan HMI bisa menjadi jalan menuju kebaikan dan rida Allah. Namun, tiket menuju surga bukan milik organisasi mana pun. Surga adalah urusan Allah, sedangkan tugas manusia adalah beriman, beramal saleh, menjaga akhlak, dan terus memperbaiki diri.
---
Rujukan:
1. Pengurus Besar HMI, [Sejarah HMI](https://pbhmi.id/sejarah/).
2. Pengurus Besar HMI, [Profil dan Tujuan HMI](https://pbhmi.id/profil/).
3. Al-Qur'an, Surah An-Nisa ayat 124.
4. Sahih Muslim, hadis tentang masuk surga dengan rahmat Allah, bukan semata-mata karena amal.


