Kerinci, Wajah Wisata Budaya Jambi dari Tanah Hulu
17 Aug 2026 | 11 | Admin
Landscape Gunung Keringi dari Kayo Aro, Kerinci, Provinsi Jambi, 2026
Fotografi: Rifqi Kurniawan
Oleh: Rian Indra Eftritianto
Independen Arkeologi dan Museum Studies
Ketua GenPI Provinsi Jambi | Wakil Ketua IAAI Komda Sumbangsel
Kabupaten Kerinci, Jambinyanyok.com | Ketika berbicara tentang pariwisata Provinsi Jambi, kita sering melihat Jambi dari wajah yang sangat identik dengan kawasan dataran rendah: Sungai Batanghari, kebudayaan Melayu, kawasan perkotaan, situs sejarah, dan berbagai destinasi yang berkembang di sepanjang jalur sungai dan pesisir timur.
Namun, Jambi sesungguhnya memiliki wajah lain yang sangat berbeda di bagian hulunya.
Kerinci.
Wilayah yang berada di dataran tinggi Bukit Barisan ini memiliki lanskap alam, sejarah, dan kebudayaan yang membentuk karakter tersendiri. Gunung Kerinci, Danau Kerinci, perkebunan di Kayu Aro, hutan, lembah, dan permukiman masyarakat bukan hanya membentuk panorama, tetapi juga menjadi ruang panjang tempat kebudayaan Kerinci tumbuh dan diwariskan.
Karena itu, menurut saya, sudah saatnya kita mulai melihat Kerinci bukan hanya sebagai destinasi wisata alam Jambi, tetapi sebagai salah satu pusat wisata budaya Jambi di wilayah hulu.
Bukan untuk mempertentangkan Kerinci dengan wilayah lain di Jambi. Justru sebaliknya, keberagaman karakter inilah yang dapat menjadi kekuatan pariwisata Provinsi Jambi.
Jambi Tidak Hanya Memiliki Satu Wajah Kebudayaan
Jambi sering dipahami melalui identitas Melayu. Itu merupakan bagian penting dari sejarah dan kebudayaan provinsi ini. Namun, Jambi juga memiliki keberagaman masyarakat, sejarah, lingkungan, dan kebudayaan yang membentuk karakter berbeda-beda di setiap wilayah.
Kerinci adalah salah satunya.
Dataran tinggi Kerinci memiliki sejarah hunian yang panjang. Tinggalan megalitik, temuan arkeologis, tradisi lisan, rumah larik, sistem adat, aksara Incung, hingga berbagai tradisi masyarakat memperlihatkan bahwa kawasan ini memiliki perjalanan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap pegunungannya.
Pola Permukiman Rumah Larik di Hiang Tinggi, Kerinci, 2026
Fotografer: Musa Congkel
Di sinilah saya melihat konsep cultural landscape menjadi relevan. Pemikiran ini antara lain dikembangkan oleh J.B. Jackson, yang melihat lanskap sebagai sesuatu yang tidak semata-mata terbentuk oleh alam, tetapi juga oleh aktivitas dan kehidupan manusia.
Jika perspektif tersebut digunakan untuk membaca Kerinci, maka gunung, danau, sawah, perkebunan, permukiman, rumah larik, situs arkeologi, dan ruang adat bukanlah bagian yang berdiri sendiri.
Semuanya merupakan satu lanskap kehidupan.
Artinya, ketika kita berbicara tentang Kerinci, kita sesungguhnya sedang berbicara mengenai hubungan panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan.
Kerinci Bukan Sekadar Pemandangan
Saya melihat ada kecenderungan dalam promosi pariwisata untuk menjadikan alam sebagai wajah utama Kerinci.
Gunung Kerinci ditampilkan.
Danau Kerinci ditampilkan.
Perkebunan teh Kayu Aro ditampilkan.
Air terjun dan lanskap pegunungan ditampilkan.
Semua memang menarik.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa cerita yang kita berikan kepada wisatawan setelah mereka melihat semua itu?
Karena pariwisata yang kuat tidak hanya membuat orang melihat sebuah tempat.
Pariwisata yang kuat membuat orang memahami sebuah tempat.
Kenduri Sko di Belui, 2026
Fotografer: Ega Renta Mulia
Pemikiran Edward Relph tentang place and placelessness menurut saya menarik untuk digunakan membaca persoalan ini. Sebuah tempat memiliki karakter dan identitas yang membuatnya berbeda dari tempat lain.
Jika Kerinci hanya dipromosikan melalui gambar gunung, danau, perkebunan, dan panorama, maka ada risiko identitas Kerinci justru direduksi menjadi sekadar pemandangan.
Padahal, yang membuat Kerinci berbeda bukan hanya apa yang dilihat oleh mata, tetapi juga cerita yang hidup di balik lanskap tersebut.
Gunung Kerinci bukan sekadar gunung.
Danau Kerinci bukan sekadar danau.
Kayu Aro bukan hanya perkebunan.
Rumah larik bukan sekadar rumah tradisional.
Situs arkeologi bukan sekadar benda tua.
Semuanya memiliki cerita yang dapat membentuk pengalaman wisata.
Dari Lanskap Alam Menjadi Lanskap Budaya
Dalam perspektif cultural landscape, sebuah lanskap tidak hanya dipahami sebagai bentang alam, tetapi sebagai ruang yang terbentuk melalui hubungan manusia dengan lingkungannya.
Cara pandang ini menurut saya sangat tepat untuk membaca Kerinci.
Lanskap rumah larik, misalnya, tidak hanya memperlihatkan bentuk arsitektur tradisional. Di dalamnya terdapat pola permukiman, hubungan kekerabatan, kehidupan komunal, serta cara masyarakat mengorganisasi ruang kehidupannya.
Rumah larik dengan demikian bukan sekadar objek wisata.
Ia merupakan bagian dari lanskap budaya.
Hal yang sama dapat digunakan untuk membaca situs-situs arkeologi. Tinggalan arkeologi tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari perjalanan sejarah manusia yang berlangsung dalam sebuah ruang.
Karena itu, menurut saya, wisata budaya Kerinci seharusnya tidak dibangun berdasarkan daftar objek semata, tetapi berdasarkan hubungan antarwarisan dalam satu lanskap.
Wisatawan tidak hanya diajak berpindah dari satu objek ke objek lainnya.
Mereka diajak membaca sebuah cerita.
Kerinci Memiliki Modal Wisata Budaya yang Khas
Jika kita berbicara mengenai potensi wisata budaya Kerinci, setidaknya ada beberapa kekuatan yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih serius:
1. Lanskap permukiman tradisional
Rumah larik merupakan salah satu karakter penting kebudayaan Kerinci. Pola permukimannya memperlihatkan kehidupan komunal dan sejarah hubungan sosial masyarakat.
2. Warisan arkeologi
Tinggalan megalitik dan berbagai temuan arkeologi memberikan peluang untuk mengembangkan wisata edukasi dan interpretasi sejarah yang lebih kuat.
3. Tradisi dan adat yang masih hidup
Kenduri Sko dan berbagai tradisi adat memperlihatkan bahwa kebudayaan Kerinci bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi masih memiliki fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat.
4. Bahasa, aksara, dan pengetahuan lokal
Aksara Incung, tradisi lisan, pengetahuan lingkungan, dan berbagai bentuk pengetahuan lokal merupakan bagian penting dari identitas Kerinci.
5. Hubungan antara alam dan kebudayaan
Gunung, danau, perkebunan, hutan, pertanian, dan permukiman membentuk lanskap kehidupan yang dapat dikembangkan sebagai pengalaman wisata yang lebih utuh.
Kelima hal tersebut menunjukkan bahwa Kerinci sebenarnya memiliki modal untuk membangun wisata budaya yang tidak harus bergantung pada atraksi buatan.
Jangan Jadikan Budaya Sekadar Pertunjukan
Ada satu hal yang menurut saya perlu kita waspadai.
Ketika kebudayaan mulai dilihat sebagai potensi pariwisata, ada kecenderungan untuk menjadikannya sekadar pertunjukan.
Tradisi ditampilkan.
Pakaian adat dipakai.
Tarian dipentaskan.
Rumah tradisional dijadikan latar foto.
Kemudian selesai.
Menurut saya, pendekatan seperti itu terlalu sederhana.
Laurajane Smith, melalui konsep Authorized Heritage Discourse, mengkritik cara pandang yang terlalu menempatkan warisan sebagai benda, bangunan, atau peninggalan yang ditentukan nilainya oleh otoritas tertentu. Bagi Smith, heritage juga berkaitan dengan proses masyarakat dalam memberi makna terhadap masa lalu.
Pemikiran ini penting untuk Kerinci.
Sebab ketika kita mengembangkan wisata budaya, kita harus bertanya:
Siapa yang menentukan nilai sebuah warisan?
Siapa yang memiliki pengetahuan tentangnya?
Dan siapa yang mendapatkan manfaat ketika warisan tersebut menjadi bagian dari pariwisata?
Karena itu, wisata budaya harus tetap menghormati konteks masyarakat.
Tidak semua tradisi harus dipertontonkan.
Tidak semua situs harus dibuka.
Tidak semua ruang sakral harus menjadi destinasi.
Ada batas yang harus dihormati.
Justru di sinilah profesionalisme pengelolaan wisata budaya diuji.
Arkeologi Harus Menjadi Bagian dari Cerita Wisata
Sebagai seorang yang bekerja secara independen dalam bidang Arkeologi dan Museum Studies, saya melihat Kerinci memiliki peluang besar untuk mengembangkan model wisata yang berbasis pengetahuan.
Motif Lampit Tigo, Kerinci, 2026
Fotografer: Musa Congkel
Nick Merriman, melalui gagasan Public Archaeology, menekankan pentingnya hubungan antara arkeologi dan publik.
Bagi saya, pemikiran tersebut sangat relevan.
Arkeologi tidak cukup hanya menemukan artefak dan menghasilkan laporan penelitian.
Pengetahuan arkeologi harus dapat kembali kepada masyarakat.
Situs harus memiliki interpretasi.
Artefak harus memiliki cerita.
Sejarah harus dapat dipahami.
Dan masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut.
Saya membayangkan suatu saat wisatawan yang datang ke Kerinci tidak hanya mendapatkan informasi:
“Ini adalah situs arkeologi.”
Tetapi mendapatkan cerita:
Siapa yang pernah hidup di sini?
Bagaimana mereka membangun kehidupan?
Bagaimana mereka berhubungan dengan lingkungan?
Apa yang diwariskan kepada masyarakat hari ini?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, maka situs arkeologi berubah dari sekadar objek menjadi pengalaman pengetahuan.
Kerinci Bisa Menjadi Laboratorium Wisata Budaya Jambi
Menurut saya, Kerinci memiliki peluang untuk menjadi semacam laboratorium pengembangan wisata budaya berbasis lanskap, arkeologi, masyarakat, dan ekonomi kreatif di Provinsi Jambi.
Bukan berarti seluruh wilayah Kerinci harus dijadikan destinasi.
Justru perlu ada klasifikasi.
Ada warisan yang harus dilindungi.
Ada warisan yang dapat menjadi ruang pendidikan.
Ada warisan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi.
Ada pula warisan yang sebaiknya tetap berada dalam ruang kehidupan masyarakat.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan gagasan heritage management, yang menempatkan pelindungan, pemanfaatan, dan keberlanjutan warisan sebagai sesuatu yang harus berjalan bersama.
Menurut saya, pariwisata tidak boleh hanya mengejar jumlah kunjungan.
Pariwisata juga harus menjaga sumber daya yang membuat wisatawan datang.
Masyarakat Jangan Hanya Menjadi Penonton
Pengembangan wisata budaya juga harus menempatkan masyarakat sebagai bagian utama.
Pemikiran Peter E. Murphy mengenai community-based tourism relevan dalam konteks ini.
Pariwisata seharusnya memberi ruang kepada masyarakat lokal untuk terlibat dalam proses pengembangan dan mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata.
Masyarakat Kerinci dapat menjadi:
pemandu wisata;
pengelola homestay;
pelaku kuliner;
pengrajin;
seniman;
pengelola ruang budaya;
pembuat konten;
pengelola desa wisata;
sekaligus pemilik cerita.
Masyarakat bukan sekadar latar belakang wisata.
Masyarakat adalah bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Jika wisatawan datang ke sebuah desa, manfaat ekonominya harus terasa di desa tersebut.
Jika wisatawan menikmati kebudayaan masyarakat, maka masyarakat harus memiliki posisi dalam menentukan bagaimana kebudayaan tersebut ditampilkan.
Dari Kerinci untuk Jambi
Saya melihat potensi Kerinci sebenarnya dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih besar untuk membangun wajah pariwisata Provinsi Jambi.
Jambi memiliki kekayaan budaya yang beragam.
Kawasan Muaro Jambi memiliki sejarah arkeologi dan budaya yang sangat kuat.
Wilayah Batanghari memiliki sejarah sungai dan kebudayaan yang berbeda.
Merangin memiliki lanskap dan warisan sejarah tersendiri.
Sementara Kerinci menawarkan karakter dataran tinggi, lanskap pegunungan, permukiman tradisional, tradisi adat, dan warisan arkeologi yang memiliki identitas berbeda.
Keberagaman tersebut seharusnya tidak diseragamkan.
Justru harus menjadi kekuatan.
Jambi tidak membutuhkan satu wajah pariwisata. Jambi membutuhkan mozaik destinasi yang memperlihatkan keberagaman identitas wilayahnya.
Dan Kerinci memiliki posisi penting dalam mozaik tersebut.
Kerinci Membutuhkan Peta Jalan Wisata Budaya
Karena itu, menurut saya, Kabupaten Kerinci membutuhkan peta jalan wisata budaya yang tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kebudayaan, arkeologi, museum, ekonomi kreatif, pendidikan, dan pembangunan desa.
Setidaknya ada beberapa langkah yang perlu mulai dilakukan:
1. Memetakan potensi budaya dan arkeologi
Kita harus mengetahui apa yang dimiliki Kerinci sebelum menentukan apa yang akan dikembangkan.
2. Menentukan prioritas destinasi
Tidak semua potensi harus menjadi destinasi. Harus ada pertimbangan nilai penting, kesiapan, daya dukung, dan kepentingan masyarakat.
3. Membuat narasi destinasi
Setiap destinasi harus memiliki cerita yang kuat dan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Melibatkan masyarakat
Masyarakat harus menjadi pelaku dan penerima manfaat, bukan hanya penonton.
5. Menghubungkan wisata alam dan budaya
Jangan membuat keduanya berjalan sendiri-sendiri. Bangun rute dan pengalaman yang menghubungkan alam, sejarah, budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat.
6. Mengembangkan ekonomi kreatif
Cerita, tradisi, arkeologi, kuliner, seni, dan kerajinan dapat dikembangkan menjadi produk dan pengalaman kreatif.
7. Menguatkan promosi digital
Kerinci membutuhkan narasi digital yang tidak hanya memperlihatkan keindahan, tetapi juga menceritakan identitas.
Masa Depan Kerinci Bukan Hanya tentang Jumlah Wisatawan
Pada akhirnya, saya melihat persoalan pembangunan wisata budaya Kerinci bukan sekadar tentang bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang akan mereka pahami?
Apa yang akan mereka rasakan?
Apa yang akan mereka bawa pulang?
Dan yang paling penting:
Apa yang masyarakat Kerinci dapatkan dari kedatangan mereka?
Pariwisata yang baik bukan hanya membuat orang datang.
Pariwisata yang baik membuat orang menghargai tempat yang dikunjunginya.
Karena itu, saya membayangkan masa depan wisata Kerinci dengan satu pendekatan sederhana:
Alam sebagai pintu masuk, budaya sebagai cerita, arkeologi sebagai pengetahuan, masyarakat sebagai pelaku, museum sebagai ruang interpretasi, dan ekonomi kreatif sebagai penggerak.
Dengan pendekatan tersebut, Kerinci tidak perlu menjadi seperti destinasi lain.
Kerinci cukup menjadi Kerinci.
Sebuah wilayah di hulu Jambi yang memiliki lanskap alam luar biasa, sejarah panjang, kebudayaan yang khas, serta masyarakat yang masih menjaga hubungan dengan warisan leluhurnya.
Jika potensi tersebut mampu dikelola dengan baik, maka Kerinci bukan hanya akan menjadi salah satu destinasi wisata alam terbaik di Jambi.
Kerinci dapat menjadi salah satu wajah utama wisata budaya Jambi dari wilayah hulu.
Dan dari sanalah kita dapat mulai membangun pariwisata yang tidak hanya membuat wisatawan datang, tetapi membuat mereka mengenal, memahami, menghargai, dan membawa pulang cerita tentang Kerinci.


