Pemerintahan
JAS MERAH untuk Embarkasi Haji Antara Jambi: Mengingat Mereka yang Berjuang dari Awal
14 Aug 2026 | 181 | Admin
Penulis: H. HERMAN, S.Ag., M.Pd.I
Jambi, Jambinyanyok.com | Menetapkan Bandara Sultan Thaha Jambi sebagai Embarkasi Haji Antara bukanlah perkara yang diraih dalam sekejap mata. Status bersejarah itu lahir dari perjuangan panjang, kesungguhan bersama, dan dukungan menyatu dari seluruh pihak terkait.
Dukungan politik dan komitmen nyata diberikan oleh Gubernur H. Hasan Basri Agus, disertai kepemimpinan dan perjuangan tekun Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, H. Mahbub Daryanto, beriringan dengan kegigihan jajaran penyelenggara haji, termasuk H. Herman selaku Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Sebelum adanya Embarkasi Haji Antara Jambi, para jamaah haji asal seluruh kabupaten/kota di Jambi harus menempuh perjalanan jauh menuju daerah lain—Padang maupun Batam—untuk dapat berangkat ke Tanah Suci. Biaya tambahan, waktu perjalanan yang panjang, serta kelelahan yang mendera, terutama bagi jamaah lanjut usia, menjadi beban berat yang dirasakan masyarakat.
Melihat kenyataan itu, tumbuh tekad kuat agar suatu hari nanti jamaah haji Jambi dapat berangkat melalui pintu keberangkatan di tanah kelahirannya sendiri.
Gubernur H. Hasan Basri Agus memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah Provinsi Jambi menyusun payung hukum berupa Peraturan Daerah, menghibahkan tanah Asrama Haji kepada Kementerian Agama, serta melengkapi sarana dan prasarana pendukung sebagai bukti kesungguhan daerah.
Di jajaran Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi, H. Mahbub Daryanto memimpin perjuangan teknis dan advokasi secara langsung. Aspirasi daerah disuarakan ke tingkat pusat, berbagai persyaratan administrasi dan kesiapan sarana didorong untuk dipenuhi, serta koordinasi lintas sektoral dilakukan guna menyelaraskan kesiapan Bandara Sultan Thaha dan Asrama Haji.
Di garis depan pelaksanaan teknis, H. Herman terus berupaya menyusun kelengkapan dokumen, memastikan kesiapan pelayanan, serta menyelesaikan berbagai persyaratan yang dibutuhkan. Langkah demi langkah ditempuh dan berbagai kendala dihadapi dengan keteguhan.
Perjuangan yang mempertemukan dukungan Pemerintah Provinsi Jambi, kepemimpinan Kementerian Agama, serta ketekunan jajaran teknis tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Melalui Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 205 Tahun 2014, Bandara Sultan Thaha Jambi resmi ditetapkan sebagai Embarkasi Haji Antara, dan mulai beroperasi penuh pada musim haji 1436 H/2015 M.
Perjuangan Itu Tidak Berhenti: Dilanjutkan Gubernur Al Haris
Sejarah tidak berhenti pada saat sebuah cita-cita berhasil diwujudkan. Sebuah fasilitas publik harus terus dijaga, dikembangkan, dan disempurnakan agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat.
Dalam konteks itulah, Gubernur Jambi Al Haris juga patut diapresiasi karena melanjutkan perhatian pemerintah daerah terhadap keberadaan dan pengembangan Embarkasi Haji Jambi.
Hari ini, komitmen tersebut diwujudkan melalui tambahan bantuan sebesar Rp40 miliar untuk Embarkasi Haji Jambi. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Embarkasi Haji Antara bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari agenda pembangunan pelayanan keagamaan yang terus dilanjutkan oleh pemerintah daerah.
Dengan demikian, ada kesinambungan yang harus dilihat secara objektif.
Apa yang dahulu diperjuangkan oleh para pendahulu harus dihargai, sementara apa yang hari ini dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya juga harus diapresiasi.
Tidak ada pembangunan yang lahir dari satu masa pemerintahan saja. Setiap pemimpin memberikan kontribusi sesuai dengan zamannya. Karena itu, pembangunan Embarkasi Haji Jambi semestinya dipandang sebagai sebuah estafet perjuangan.
Mereka yang membuka jalan patut dikenang.
Mereka yang membangun fondasi patut dihargai.
Dan mereka yang melanjutkan serta memperkuatnya juga patut diapresiasi.
Embarkasi Haji Antara Jambi: Warisan yang Tetap Bertahan
Hal yang patut menjadi perhatian adalah bahwa Embarkasi Haji Antara Jambi hingga hari ini tetap dipertahankan dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat Jambi.
Keberlangsungan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan yang dilakukan sejak awal bukanlah sebuah proyek sesaat. Ia telah menjadi bagian dari sistem pelayanan kepada jamaah haji dan menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat yang hendak menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Karena itu, keberadaan Embarkasi Haji Antara Jambi harus dipandang sebagai warisan pelayanan publik yang memiliki nilai sejarah sekaligus nilai strategis.
Ia bukan hanya berbicara tentang keberangkatan pesawat menuju Tanah Suci. Di dalamnya terdapat sejarah panjang tentang bagaimana pemerintah daerah, Kementerian Agama, para pejabat teknis, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak lainnya berjuang menghadirkan kemudahan bagi jamaah haji.
Jika dahulu jamaah Jambi harus menempuh perjalanan ke daerah lain untuk mendapatkan layanan embarkasi, maka hari ini jamaah dapat merasakan manfaat dari perjuangan tersebut di tanah sendiri.
Inilah yang harus dijaga.
Jangan sampai generasi yang menikmati hasil perjuangan justru melupakan siapa yang dahulu membuka jalan perjuangan tersebut.
JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah
Embarkasi Haji Antara Jambi bukan sekadar sebuah status kelembagaan atau fasilitas keberangkatan jamaah haji. Ia merupakan bagian dari sejarah pelayanan publik di Provinsi Jambi yang lahir melalui proses panjang.
Karena itu, JAS MERAH—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah—menjadi penting untuk diingat.
Sejarah tidak semestinya hanya mencatat siapa yang menikmati hasil akhirnya. Sejarah juga harus mengingat siapa yang membuka jalan, siapa yang memperjuangkan kebijakan, siapa yang melakukan advokasi, dan siapa yang bekerja menyelesaikan berbagai persoalan teknis hingga cita-cita tersebut benar-benar terwujud.
Namun, menghargai sejarah bukan berarti berhenti pada masa lalu.
Justru sejarah harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan.
H. Hasan Basri Agus, H. Mahbub Daryanto, H. Herman, serta seluruh pihak yang terlibat dalam perjuangan awal berdirinya Embarkasi Haji Antara Jambi patut ditempatkan dalam catatan sejarah.
Pada saat yang sama, Gubernur Al Haris dengan tambahan dukungan Rp40 miliar hari ini menunjukkan bahwa perjuangan tersebut terus dilanjutkan dan diperkuat.
Inilah makna pembangunan yang sesungguhnya: bukan saling menghapus jasa, tetapi saling menyambung perjuangan.
Generasi hari ini boleh menikmati kemudahan. Tetapi generasi hari ini juga memiliki kewajiban untuk mengetahui siapa yang dahulu berjuang menghadirkan kemudahan tersebut.
Embarkasi Haji Antara Jambi adalah warisan perjuangan bersama yang harus terus dirawat, dipertahankan, dan dikembangkan.
Jangan lupakan sejarah. Jangan lupakan perjuangan. Dan jangan pula melupakan mereka yang pernah berdiri di garis depan ketika cita-cita itu belum menjadi kenyataan.
JAS MERAH untuk Embarkasi Haji Antara Jambi.(***)
Komentar
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini.Tulis Komentar
Berita Trending
Berita Lainnya


