Ironi 100.112 Suara Jambi: Cek Endra Dikirim untuk Bertarung, Bukan Cuma Jadi 'EO' Hari Raya di Medsos
21 May 2026 | 36 | Admin
Jambi, Jambinyanyok.com | Drs. H. Cek Endra sukses mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam Pemilu Legislatif lalu. Ia berhasil menduduki posisi puncak perolehan suara terbanyak dari seluruh Caleg yang bersaing merebut kursi DPR RI di wilayah Provinsi Jambi. Berdasarkan rekapitulasi KPU, Cek Endra dengan perkasa mengungguli caleg-caleg potensial lainnya dan sukses mengumpulkan total 100.112 suara.
Dominasi mutlak politisi senior Partai Golkar
ini tersebar nyata di enam kabupaten/kota, termasuk Sarolangun, Bungo, Muaro
Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Batang Hari.
Menjadi pemenang pemilu legislatif dengan
raihan suara di atas seratus ribu seharusnya menjadi modal politik yang
mematikan. Dengan legitimasi raksasa di pundaknya, mantan Bupati Sarolangun dua
periode ini melenggang ke Senayan bukan sebagai pelengkap kuota, melainkan
sebagai "singa" yang membawa mandat penuh dari Bumi Melayu. Ditambah
lagi, posisinya di Komisi XII DPR RI—yang mengurusi Energi, Tambang, dan
Lingkungan Hidup—seharusnya menjadi senjata pamungkas untuk menyelesaikan
karut-marut Jambi yang sedang sekarat.
Namun, setelah sekian lama menduduki kursi
empuk Senayan, apa yang didapat masyarakat Jambi? Nyaris nihil.
Jika kita membuka rekam jejaknya, beranda
media sosial sang legislator justru lebih dinamis dengan rutinitas yang
menjemukan: ucapan selamat hari besar yang berganti-ganti, foto-foto
seremonial, dan laporan reses yang tak lebih dari sekadar bagi-bagi sembako
ritual lima tahunan. Rakyat Jambi tidak mengirim Cek Endra ke Jakarta hanya
untuk menjadi Event Organizer (EO) ucapan selamat hari raya atau sekadar
petugas pembagi paket sembako. Rakyat butuh taringnya di ruang sidang!
Garang di Jambi, Melempem di Senayan?
Sebagai mantan Bupati Sarolangun dua periode
dan Ketua DPD Golkar Jambi, Cek Endra tentu tahu betul bagaimana hancurnya
infrastruktur Jambi akibat truk batubara. Beliau pasti paham bagaimana
meratanya racun merkuri akibat PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) di
sungai-sungai kita, dan bagaimana korporasi besar mengeruk kekayaan bumi Jambi
lalu meninggalkan lubang maut tanpa reklamasi.
Apalagi, basis suara terbesarnya berada di Batang
Hari, Muaro Jambi, dan Sarolangun—tiga wilayah yang menjadi episentrum
penderitaan akibat debu dan kemacetan batubara. Di Jambi, beliau dikenal
sebagai tokoh kuat yang disegani. Tapi mengapa di ruang rapat Komisi XII DPR
RI, suaranya terdengar begitu normatif, santun, dan kehilangan taji?
Kritik-kritik yang dilontarkan Cek Endra
kepada Kementerian ESDM atau Dirjen Minerba selama ini tak lebih dari sekadar
"basa-basi politik". Kalimat seperti "Saya meminta
kementerian memperhatikan..." atau "Ini ironis..."
adalah kalimat aman yang tidak mengubah apa pun di lapangan. Mengapa pemilik
100.112 suara ini tidak berani menggunakan hak pengawasannya secara radikal?
Mengapa beliau tidak menggebrak meja untuk mendesak pencabutan izin total bagi
perusahaan tambang raksasa yang merusak fasilitas publik di Jambi?
Apakah modal suara rakyat yang begitu besar
kemarin mendadak menyusut dan kehilangan nyali ketika berhadapan dengan
kepentingan oligarki tambang di pusat?
Ironi Komisi XII: Membela Pengusaha atau
Rakyat Jambi?
Sikap politik Cek Endra baru-baru ini justru
memicu tanda tanya besar terkait keberpihakannya. Dalam rapat kerja Komisi XII,
beliau justru terkesan mendukung kebijakan pemerintah yang memperlonggar
fiskal—seperti menunda penyesuaian royalti dan bea keluar minerba—dengan dalih
menjaga iklim investasi.
Ini adalah tamparan keras bagi konstituennya
di Jambi. Di saat rakyat Jambi menderita akibat dampak lingkungan dan
infrastruktur yang hancur lebur oleh aktivitas minerba, wakil rakyat mereka di
Jakarta justru sibuk memikirkan kenyamanan dompet para pengusaha tambang.
Logika macam apa ini? Di mana komitmen membela
daerah penghasil jika instrumen yang memanjakan korporasi justru didukung,
sementara pemulihan ekologi Jambi tetap dibiarkan terseok-seok tanpa anggaran
kompensasi yang sepadan? Masyarakat Jambi berhak curiga: Apakah Cek Endra di
Komisi XII sedang berjuang sebagai wakil rakyat Jambi, atau justru menjelma
menjadi perpanjangan tangan industri tambang?
Berhentilah Bersembunyi di Balik Kata
"Proses"
Rakyat sudah bosan dengan pembelaan klasik
bahwa "DPR bukan eksekutor" atau "semua butuh proses".
Legitimasi suara terbanyak yang diberikan kepada Cek Endra adalah mandat
kekuasaan untuk memaksa eksekutif bekerja. Jika menteri atau dirjen
terkait abai terhadap Jambi, Cek Endra punya hak dan panggung untuk mencecar
mereka habis-habisan, membuat kegaduhan politik yang positif demi daerahnya,
bukan malah tampil kompromistis.
Jika sisa masa jabatan ini hanya diisi dengan
rutinitas reses formalitas, foto-foto rapat yang estetik, dan baliho ucapan
hari besar yang bertebaran di pinggir jalan, maka sah bagi publik untuk menilai
bahwa Cek Endra telah gagal.
Jangan sampai sejarah mencatat bahwa peraih
suara terbanyak Dapil Jambi ini ternyata adalah investasi politik paling merugi
bagi masyarakat Jambi—garang saat meminta suara, namun melempem dan mandul saat
memegang kekuasaan. Rakyat Jambi tidak butuh pajangan politik di Senayan;
rakyat butuh pembela yang bernyali! (***)


