ASAP LENYAP, GANTI MUNCUL HUJAN DAN BANJIR — MASIHKAH KITA SALAHKAN PEMERINTAH?
25 Oct 2026 | 50 | Admin
Oleh: H. Herman, S.Ag., M.Pd.I.
Jambi, Jambinyanyok.com | Kabut asap yang selama ini menyelimuti tanah Jambi perlahan menghilang. Hujan turun, menyegarkan udara yang sempat pekat. Namun di tengah rasa lega, kekhawatiran baru mulai muncul: air hujan tak lagi terserap ke tanah. Selokan meluap, sungai naik, dan potensi banjir mulai terasa di mana-mana.
Lalu dengan mudahnya kita berkata: "Lihat, ini salah pemerintah lagi!"
Mari kita berhenti sejenak. Tarik napas, dan lihat dengan jujur.
AIR YANG TAK LAGI PUNYA TEMPAT PULANG
Hujan adalah anugerah. Tapi hujan kini berubah menjadi ancaman, karena tanah kita kehilangan kemampuan menampungnya. Hutan yang gundul, sungai yang dangkal tertutup sampah, dan lahan resapan yang tertutup bangunan — siapa yang melakukannya?
Bukan pemerintah yang membuang sampah ke sungai setiap hari. Bukan pemerintah yang membakar hutan untuk membuka lahan. Bukan pula pemerintah yang menebang pohon di sekitar tempat tinggal kita tanpa menanam penggantinya.
Itulah sebagian dari kita — manusia sendiri.
PEMERINTAH ADA, TAPI KITA JUGA PUNYA PERAN
Pemerintah memang punya tugas mengatur, mengawasi, dan menindak. Tapi pemerintah tak bisa berdiri di setiap jengkal tanah kita. Ia tak bisa memaksa tangan kita untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ia tak bisa menanam rasa tanggung jawab jika hati kita sendiri masih abai.
Selalu lebih mudah menunjuk ke atas daripada merenung ke dalam diri. Namun satu hal yang harus kita sadari: bencana tak selesai dengan saling tuduh. Bencana selesai saat kita sadar, lingkungan ini tanggung jawab kita bersama.
MULAI DARI DIRI SENDIRI
Saat hujan turun dan air mulai naik, mari kita tanya bukan "siapa yang salah?", melainkan:
- Sudahkah saya buang sampah pada tempatnya?
- Apakah saya menjaga selokan di depan rumah saya?
- Apakah saya turut merawat pohon dan lingkungan sekitar?
Bencana asap maupun banjir adalah cermin. Cermin yang mengingatkan kita bahwa alam tak akan menipu — ia hanya memberi respons atas apa yang kita lakukan padanya.
Berhenti saling tuduh, mari bersama menjaga. Karena tanah tempat kita berpijak, bukan milik pemerintah saja. Itu rumah kita semua.(***)


