Ketua Perkumpulan Raden Melayu Jambi Kecam Keras Pendemo yang Bungkus Monumen Sultan Thaha dengan Kain Putih: Dinilai Merendahkan Simbol Perjuangan!
Opini

Ketua Perkumpulan Raden Melayu Jambi Kecam Keras Pendemo yang Bungkus Monumen Sultan Thaha dengan Kain Putih: Dinilai Merendahkan Simbol Perjuangan!

  28 Oct 2026 |   89 |   Admin

Jambi, Jambinyanyok.com | Ketua Perkumpulan Raden Melayu Jambi Kota Jambi, Raden Syach Iran Syam, mengutuk keras tindakan pendemo yang membungkus monumen patung Pahlawan Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin, dengan kain putih. Ia menilai tindakan tersebut tidak pantas karena berpotensi merendahkan simbol sejarah dan melukai penghormatan terhadap sosok pahlawan kebanggaan masyarakat Jambi.


Menurut Raden Syach Iran Syam, penyampaian aspirasi melalui demonstrasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus tetap dijalankan dengan memperhatikan etika, adab, serta penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah yang menjadi identitas masyarakat.


“Kalau ingin menyampaikan aspirasi secara kreatif, tidak harus dengan melakukan tindakan yang berpotensi merendahkan simbol perjuangan. Demonstrasi boleh dilakukan, kritik terhadap pemerintah boleh disampaikan dengan keras, tetapi jangan sampai monumen pahlawan dijadikan objek pelampiasan aksi,” tegasnya.


Ia menekankan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar tentang tindakan membungkus sebuah patung dengan kain putih, melainkan menyangkut makna simbolis monumen Sultan Thaha Syaifuddin sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan seorang tokoh yang menentang penjajahan di tanah Jambi.


Raden Syach Iran Syam juga menegaskan bahwa sikapnya bukan merupakan bentuk pemujaan terhadap patung atau pembenaran terhadap penyembahan berhala. Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara patung sebagai benda fisik dan monumen sebagai simbol penghormatan terhadap tokoh sejarah.


“Secara fisik, memang benar itu sebuah patung. Namun, secara simbolis, monumen tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap sosok pahlawan yang telah berjuang melawan penjajahan. Menghormati monumen pahlawan bukan berarti menyembah patung, melainkan menghargai sejarah, perjuangan, dan pengorbanan yang diwariskan kepada generasi penerus,” ujarnya.


Ia menilai, monumen pahlawan tidak sepatutnya diperlakukan semata-mata sebagai objek untuk menarik perhatian publik dalam sebuah aksi demonstrasi. Sebab, keberadaan monumen tersebut memiliki makna historis dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Jambi.


Menurutnya, kritik terhadap pemerintah semestinya diarahkan pada kebijakan atau persoalan yang menjadi pokok tuntutan demonstrasi. Kritik tersebut dapat disampaikan melalui orasi, poster, pertunjukan teatrikal, maupun bentuk ekspresi kreatif lainnya tanpa harus merendahkan simbol perjuangan.


“Jangan sampai keinginan untuk mengkritik pemerintah justru membuat kita kehilangan adab terhadap sejarah sendiri. Kalau ingin melakukan aksi yang kreatif, lakukan dengan cara yang beretika dan bermartabat. Tunjukkan keberanian dalam menyampaikan kritik, bukan dengan merendahkan simbol perjuangan para pahlawan,” katanya.


Raden Syach Iran Syam menegaskan bahwa dirinya tidak menolak kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum. Ia memahami bahwa demonstrasi merupakan salah satu instrumen demokrasi yang dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan mengawasi jalannya pemerintahan.


Namun, ia mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab. Menurutnya, kreativitas dalam demonstrasi seharusnya mampu memperkuat pesan perjuangan dan substansi tuntutan, bukan justru memunculkan polemik akibat tindakan yang dinilai tidak menghormati simbol sejarah.


Ia pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan para penggerak aksi demonstrasi, untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan refleksi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap sejarah daerah.


“Pemerintah boleh dikritik, kebijakan boleh ditentang, dan aspirasi boleh disuarakan dengan lantang. Tetapi, semuanya harus dilakukan dengan akal sehat, etika, dan tanggung jawab. Jangan sampai monumen perjuangan dijadikan pelampiasan ketidakpuasan,” tegasnya.


Bagi Raden Syach Iran Syam, penghormatan terhadap Sultan Thaha Syaifuddin bukan semata-mata persoalan monumen, melainkan juga bentuk penghargaan terhadap nilai perjuangan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Jambi.


Ia berharap penyampaian aspirasi di ruang publik tetap mengedepankan cara-cara yang beradab, sehingga semangat demokrasi dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pahlawan.


“Kritiklah pemerintah dengan keberanian, sampaikan aspirasi dengan kecerdasan, tetapi hormatilah sejarah dengan kesadaran dan tanggung jawab,” tutupnya.


Penulis: Raden Syach Iran Syam

Ketua Perkumpulan Raden Melayu Jambi Kota Jambi

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini.

Tulis Komentar