Politik
DARI IDEOLOGI KE ZOOLOGI POLITIK Ketika Partai Politik Berlomba Mengusung Lambang Hewan, tetapi Rakyat Masih Menunggu Pertarungan Gagasan
25 Aug 2026 | 5 | Admin
Jambi, Jambinyanyok.com | Fenomena politik hari ini menarik untuk dicermati. Ketika partai politik mulai berlomba-lomba menampilkan atau memperkuat identitas melalui lambang hewan, publik tentu berhak bertanya: apakah yang sedang berubah hanya simbol politik, atau juga paradigma dan substansi politiknya?
Penggunaan simbol dalam politik bukan sesuatu yang keliru. Dalam demokrasi, simbol memiliki fungsi membangun identitas, menyederhanakan pesan, serta menciptakan ikatan emosional antara partai dan pemilih.
Namun persoalannya muncul ketika simbol menjadi lebih ramai daripada gagasan.
Partai politik bukan sekadar organisasi yang membutuhkan logo. Partai merupakan instrumen demokrasi untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat, melakukan pendidikan politik, melakukan rekrutmen kepemimpinan, dan memperjuangkan kebijakan publik.
Karena itu, ukuran keberhasilan partai tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:
“Lambangnya apa?”
Tetapi harus naik menjadi pertanyaan:
“Ideologinya apa? Programnya apa? Siapa yang diperjuangkan? Dan apa yang sudah dibuktikan?”
Ketika Politik Lebih Sibuk Mengurus Simbol
Simbol memang mudah dilihat. Gagasan membutuhkan penjelasan. Logo dapat viral dalam hitungan jam, sementara program politik membutuhkan argumentasi, konsistensi, dan pembuktian.
Di sinilah kritiknya.
Jangan sampai partai politik lebih sibuk memperkenalkan “hewan politiknya” daripada menjelaskan politik kesejahteraannya.
Jangan sampai masyarakat lebih hafal warna dan lambang partai daripada mengetahui sikap partai terhadap kemiskinan, pendidikan, lapangan kerja, korupsi, penegakan hukum, ketimpangan ekonomi, dan masa depan demokrasi.
Jika hal itu terjadi, politik berpotensi bergeser dari pertarungan ideologi menuju pertarungan citra dan simbol.
Zoologi Politik Bukan Masalah, Kehilangan Substansi yang Menjadi Masalah
Istilah “zoologi politik” bukan dimaksudkan untuk merendahkan simbol hewan yang digunakan partai politik.
Simbol hewan dapat memiliki filosofi masing-masing: kekuatan, keberanian, kecerdasan, ketangguhan, kewibawaan, atau semangat perjuangan.
Tetapi demokrasi tidak boleh berhenti pada tafsir terhadap simbol.
Yang harus dipertandingkan tetaplah gagasan.
Sebab rakyat tidak memperoleh kesejahteraan dari logo.
Rakyat tidak memperoleh pekerjaan dari lambang.
Rakyat tidak mendapatkan keadilan hanya karena sebuah partai memiliki simbol yang gagah.
Rakyat membutuhkan kebijakan yang nyata dan keberpihakan yang dapat dibuktikan.
Perspektif Hukum dan Demokrasi
Dalam negara hukum demokratis, partai politik harus ditempatkan sebagai bagian penting dari proses kedaulatan rakyat.
Identitas politik boleh berubah, desain boleh diperbarui, dan strategi komunikasi boleh berkembang. Namun perubahan tersebut semestinya tidak menghilangkan fungsi fundamental partai sebagai wadah perjuangan politik dan artikulasi kepentingan masyarakat.
Karena itu, publik berhak melakukan uji substansi politik terhadap setiap partai:
Apa gagasannya?
Apa programnya?
Apa rekam jejaknya?
Dan bagaimana pertanggungjawabannya kepada rakyat?
Sebab dalam demokrasi, rakyat bukan sekadar objek kampanye. Rakyat adalah pemegang kedaulatan.
Rakyat Tidak Sedang Memilih Kebun Binatang
Kritik akhirnya sederhana:
Jangan sampai demokrasi berubah menjadi kompetisi kebun binatang politik.
Partai boleh memiliki hewan sebagai simbol. Tetapi jangan biarkan simbol menjadi pengganti gagasan.
Yang seharusnya dipertarungkan dalam demokrasi bukan siapa memiliki lambang paling kuat, melainkan siapa memiliki gagasan paling relevan, program paling rasional, kader paling berintegritas, dan keberpihakan paling nyata kepada rakyat.
Sebab:
Logo adalah identitas.
Ideologi adalah arah.
Program adalah janji.
Kinerja adalah pembuktian.
Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan partai yang sekadar pandai mengganti lambang.
Rakyat membutuhkan partai yang mampu mengganti keadaan.
Dan pertanyaan terbesar bagi partai politik hari ini bukan:
«“Hewan apa yang menjadi lambang kita?”»
Tetapi:
«“Gagasan apa yang kita perjuangkan, dan perubahan apa yang benar-benar kita berikan kepada rakyat?”»
ELAS ANRA DERMAWAN, S.H.
OPINI HUKUM DAN POLITIK
Komentar
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini.Tulis Komentar
Berita Trending
Berita Lainnya


