Miris, SD Lokal Jauh di Sarolangun Bertahan dengan Swadaya, Fasilitas Minim dan Belum Tersentuh MBG
Pendidikan

Miris, SD Lokal Jauh di Sarolangun Bertahan dengan Swadaya, Fasilitas Minim dan Belum Tersentuh MBG

  03 Jun 2026 |   28 |   Admin

Sarolangun, Jambinyanyok.com | Sekolah SD Lokal Jauh yang menginduk ke SD Negeri 221/VII Pemusiran II Lokal Jauh, beralamat di Dusun VI Pemusiran Hulu RT 21, Desa Pemusiran, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, saat ini menjadi sorotan publik setelah kondisi sekolah tersebut viral di media sosial.


Kondisi sekolah tersebut dinilai sangat memprihatinkan. Bangunan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar masih didominasi konstruksi kayu dan mengingatkan pada bentuk sekolah di era 1990-an. Di tengah keterbatasan fasilitas, para siswa tetap menjalani proses belajar dengan kondisi yang jauh dari kata ideal.


Lebih memprihatinkan lagi, di tengah kondisi sekolah yang minim fasilitas, sekolah tersebut diketahui hingga saat ini belum menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program nasional pemerintah. Dengan jumlah siswa sekitar 150 orang, para murid di sekolah itu disebut belum merasakan manfaat dari program tersebut.


“Boro-boro MBG pak, fasilitas ajah apa adanya,” ungkap masyarakat setempat.


Menurut keterangan masyarakat di sekitar sekolah, sejak berdiri hingga saat ini sekolah tersebut belum mendapatkan pembangunan gedung secara menyeluruh dari pemerintah daerah.


“Kalau untuk bangunan sekolah tidak ada pak, ini lah faktanya sekolah kami,” ujarnya.


Meski demikian, semangat masyarakat dan orang tua murid untuk mempertahankan pendidikan di wilayah tersebut patut diapresiasi. Sekolah itu tetap berdiri dan berkembang berkat gotong royong serta swadaya warga.


“Awalnya hanya ada tiga lokal saja, lalu bertambah hampir setahun sekali atau dua tahun sekali, tapi semuanya swadaya,” jelas warga.


Saat ini sekolah tersebut telah memiliki tujuh ruang kelas. Sebagian kecil pembangunan dilakukan melalui Dana BOS, sementara sisanya tetap mengandalkan swadaya masyarakat.


“Sekarang sudah ada tujuh lokal. Semua swadaya. Tapi sudah dilantai tahun 2025 kemarin dari dana BOS dan kamar mandi dari dana BOS. Selebihnya swadaya.”


Masyarakat menjelaskan, apabila ada rencana penambahan ruang kelas, biasanya dilakukan musyawarah bersama untuk menghitung kebutuhan biaya pembangunan.


“Jadi kalau ada rencana penambahan ruang kelas, guru dan orang tua mengadakan rapat, setelah itu dikalkulasi berapa setiap orang tua membayar.”


Masyarakat juga menyebut bahwa proposal pembangunan sekolah pernah diajukan kepada pihak terkait, namun hingga kini belum membuahkan hasil.


“Kami sudah pernah minta dan memasukkan proposal untuk pembangunan gedung sekolah ini, tapi masih nihil.”


Saat ditanya apakah selama sekolah itu berdiri pernah ada kunjungan langsung dari pemerintah daerah untuk melihat kondisi sekolah tersebut, masyarakat mengaku pernah melihat kunjungan pada masa tertentu.


“Seingat saya pernah pak, tapi ya di masa pemilu berkampanye,” katanya.


Setelah video kondisi sekolah viral di media sosial, masyarakat juga sempat mendengar informasi bahwa akan ada kunjungan dari dinas terkait. Namun hingga saat ini, kunjungan tersebut disebut belum terealisasi.


“Karena sempat kami dengar dinas mau turun setelah video sekolah viral, tapi kenyataannya sampai hari ini tidak ada.”


Kondisi ini menjadi gambaran bahwa masih terdapat sekolah-sekolah di daerah yang menghadapi keterbatasan serius dalam fasilitas pendidikan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dan orang tua murid tetap menunjukkan semangat gotong royong agar anak-anak mereka dapat terus mengenyam pendidikan. Harapan besar pun muncul agar perhatian terhadap sekolah-sekolah lokal jauh tidak berhenti pada perbincangan di media sosial, melainkan diwujudkan melalui langkah nyata demi pemerataan pendidikan hingga pelosok daerah.

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini.

Tulis Komentar