LAKSAMANA MALAHAYATI DALAM WAJAH PEREMPUAN JAMBI: HJ. ERNAWATI DAN GAGASAN KEPEMIMPINAN BERBASIS PERADABAN
Opini

LAKSAMANA MALAHAYATI DALAM WAJAH PEREMPUAN JAMBI: HJ. ERNAWATI DAN GAGASAN KEPEMIMPINAN BERBASIS PERADABAN

  18 Sep 2026 |   40 |   Admin

Oleh: ELAS ANRA DERMAWAN, SH

Founder LBH NADI & Pengamat Hukum


Jambi, Jambinyanyok.com | Sejarah Indonesia tidak pernah kekurangan sosok perempuan yang mampu berdiri di tengah pusaran zaman. Salah satu nama yang menjadi simbol keberanian dan kepemimpinan adalah Laksamana Malahayati, tokoh perempuan dari Aceh yang menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan semata-mata persoalan jenis kelamin, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan membaca zaman, dan keteguhan mempertahankan kepentingan masyarakat.


Dalam konteks kekinian, semangat tersebut menarik untuk direfleksikan melalui sosok Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., Ketua PW ISMI Provinsi Jambi. Perbandingan dengan Laksamana Malahayati tentu bukan dimaksudkan untuk menyamakan perjalanan sejarah maupun peran keduanya secara literal. Perbandingan itu lebih tepat dipahami sebagai metafora mengenai hadirnya kepemimpinan perempuan yang berani mengambil ruang publik dan membawa gagasan sosial ke dalam agenda pembangunan daerah.


Kepemimpinan Perempuan Bukan Sekadar Representasi


Dalam perspektif ilmu politik, keterlibatan perempuan dalam ruang publik tidak cukup hanya diukur dari jumlah perempuan yang menduduki posisi organisasi atau institusi. Yang lebih penting adalah kapasitas kepemimpinan, kualitas gagasan, kemampuan membangun jejaring sosial, serta kontribusi nyata terhadap masyarakat.


Di titik inilah kepemimpinan Hj. Ernawati menarik untuk dibaca.


Sebagai Ketua PW ISMI Provinsi Jambi, ruang kepemimpinannya tidak seharusnya hanya dipahami dalam kerangka organisasi perempuan. Lebih jauh, organisasi dapat menjadi instrumen social capital—modal sosial—untuk mempertemukan gagasan perempuan, dunia usaha, pendidikan, kebudayaan, masyarakat, dan pemerintah dalam satu orientasi pembangunan.


Dengan demikian, perempuan tidak ditempatkan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang ikut menentukan arah pembangunan.


Dari Keberanian Malahayati Menuju Kepemimpinan Berbasis Peradaban


Laksamana Malahayati hidup pada zaman ketika keberanian perempuan di ruang strategis bukanlah sesuatu yang mudah. Namun sejarah membuktikan bahwa kapasitas kepemimpinan dapat melampaui konstruksi sosial yang membatasi.


Hari ini medan perjuangan telah berubah.


Tidak lagi semata-mata menghadapi peperangan fisik, tetapi menghadapi persoalan pendidikan, kemiskinan, ketimpangan sosial, pemberdayaan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, transformasi digital, lingkungan, hingga tantangan globalisasi.


Karena itu, “Malahayati” dalam konteks modern tidak harus hadir dengan pedang dan armada. Ia dapat hadir melalui gagasan, pendidikan, organisasi, diplomasi sosial, pemberdayaan ekonomi, dan keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat.


Dalam kerangka tersebut, Hj. Ernawati dapat dibaca sebagai bagian dari proses munculnya kepemimpinan perempuan Jambi yang berorientasi pada peradaban.


Jambi Membutuhkan Kepemimpinan yang Melampaui Seremonial


Pembangunan daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Jalan, gedung, jembatan dan infrastruktur memang penting, tetapi pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: manusia yang berpendidikan, masyarakat yang berdaya, kebudayaan yang hidup, serta institusi sosial yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.


Karena itu, kepemimpinan organisasi masyarakat, termasuk organisasi perempuan, perlu didorong agar tidak berhenti pada agenda seremonial.


Organisasi harus mampu menjadi laboratorium gagasan sosial.


Di sinilah pentingnya kepemimpinan seperti yang sedang dibangun Hj. Ernawati: bagaimana organisasi perempuan dapat berbicara bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, kebudayaan, pembangunan manusia, kepemimpinan, dan masa depan Jambi.


Perspektif Hukum: Kesetaraan sebagai Fondasi Ruang Publik


Secara konstitusional, prinsip kesetaraan warga negara merupakan bagian penting dari kehidupan bernegara. Ruang publik tidak boleh dibatasi berdasarkan jenis kelamin. Perempuan mempunyai hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, organisasi, maupun pemerintahan sesuai kapasitas dan ketentuan hukum yang berlaku.


Karena itu, peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan bukan sekadar persoalan politik representasi, tetapi juga bagian dari penguatan demokrasi dan tata kelola masyarakat yang inklusif.


Namun, kesetaraan tidak berarti memberikan keistimewaan tanpa dasar. Kesetaraan justru menuntut agar setiap orang mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kapasitas, integritas, kompetensi, dan tanggung jawabnya.


Perempuan Jambi dan Tantangan Global


Jambi tidak hidup dalam ruang yang terisolasi. Perubahan global telah masuk melalui teknologi, perdagangan, pendidikan, media sosial, investasi, dan mobilitas manusia.


Karena itu, perempuan Jambi membutuhkan perspektif yang tidak hanya lokal, tetapi juga mampu membaca dinamika nasional dan internasional.


Di sinilah gagasan kepemimpinan berbasis peradaban menjadi relevan.


Perempuan Jambi harus mampu mempertahankan identitas dan nilai-nilai lokal sembari membuka diri terhadap pengetahuan global. Melayu Jambi tidak harus kehilangan identitas ketika berhadapan dengan dunia internasional. Sebaliknya, kebudayaan lokal dapat menjadi modal untuk membangun posisi Jambi dalam percaturan yang lebih luas.


Dari Organisasi Menuju Gerakan Gagasan


Hj. Ernawati dan ISMI Jambi mempunyai ruang untuk membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar struktur organisasi.


Yang dibutuhkan adalah gerakan gagasan.


Gerakan yang melahirkan diskursus tentang pendidikan perempuan, kewirausahaan, ekonomi keluarga, kepemimpinan generasi muda, kebudayaan, diplomasi sosial, dan pembangunan manusia.


Jika organisasi mampu menjadi ruang lahirnya gagasan tersebut, maka perempuan tidak lagi sekadar hadir sebagai pelengkap dalam pembangunan daerah.


Perempuan menjadi arsitek sosial yang ikut membentuk arah masa depan Jambi.


Malahayati adalah Semangat, Bukan Sekadar Nama


Menyebut Hj. Ernawati sebagai “Laksamana Malahayati versi Jambi” harus ditempatkan secara proporsional.


Bukan berarti menyamakan sejarah, perjuangan, ataupun kedudukan kedua tokoh tersebut.


Malahayati adalah sejarah.


Hj. Ernawati adalah bagian dari dinamika Jambi masa kini.


Yang dapat dipertemukan adalah semangat kepemimpinan perempuan: keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan berdiri di ruang publik, dan kesediaan memperjuangkan gagasan yang diyakini bermanfaat bagi masyarakat.


Jika Malahayati meninggalkan warisan keberanian dalam sejarah Nusantara, maka tantangan bagi perempuan Jambi hari ini adalah meninggalkan warisan gagasan bagi generasi berikutnya.


Sebab ukuran kepemimpinan pada akhirnya bukan seberapa besar seseorang mendapatkan panggung, tetapi seberapa besar perubahan positif yang mampu ditinggalkan setelah panggung itu selesai.


Jambi membutuhkan perempuan yang tidak hanya hadir dalam sejarah, tetapi ikut menulis sejarahnya.


Dan apabila semangat Malahayati dimaknai sebagai keberanian perempuan untuk mengambil tanggung jawab pada zamannya, maka semangat itu selalu memiliki kemungkinan untuk hidup kembali—termasuk di tanah Jambi.


Malahayati telah menjadi sejarah.

Kini, Jambi membutuhkan perempuan yang berani membangun masa depannya.(***)

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini.

Tulis Komentar